Kita bisa dengan mudah sayang, suka, bahkan jatuh
cinta kepada seseorang, namun belum tentu bisa menerima dia sepenuhnya.
Banyak orang yang merasa yakin dan menyanggupi janji pernikahan untuk
“menerima kelebihan dan kekurangan pasangan”, namun kemudian tidak
sedikit juga yang bercerai karena tidak tahan dengan kekurangan
pasangannya.
Pernikahan dan perceraian bisa terjadi
karena banyak hal. Percaya atau tidak, pernikahan dan perceraian yang
dilakukan oleh sepasang suami istri bisa membawa dampak kepada banyak
orang di sekitarnya, terutama anak-anak mereka.
Lantas bagaimana cara untuk mengurangi kesalahan
dalam memilih orang yang benar-benar tepat, agar kita tidak menyesal di
kemudian hari?
Ada baiknya, sebelum mengikatkan diri kepada pernikahan, lakukan langkah-langkah berikut:
Sumber: http://goo.gl/2jZu5a
1. Ketahui kekurangan pasangan kamu agar kamu dapat memutuskan apakah kamu dapat menerima kekurangan tersebut atau tidak.
Umumnya, ketika sedang dalam masa awal pacaran,
biasanya perasaan kita sedang berbunga-bunga sehingga kita seringkali
lupa akan segalanya, terutama untuk yang baru pertama kali merasakan
indahnya cinta.
Semua terasa indah, bahkan “kotoran kucing pun
rasanya seperti coklat”. Awalnya kita bisa menerima
kekurangan-kekurangan pasangan kita. Tapi, lama kelamaan, seiring dengan
berjalannya waktu dan semakin dalamnya hubungan, kekurangannya akan
menjadi semakin banyak.
Perlahan tapi pasti, perasaan semakin pudar, tatkala kekurangannya lebih mendominasi kelebihannya.
Untuk kamu yang mencari kesempurnaan dan memasang
kriteria tinggi, kamu dapat mempertimbangkannya apakah dia memang cocok
untuk kamu atau tidak dan apakah kamu siap dengan segala kekurangannya?
Sumber: http://goo.gl/Y55lyF
2. Beritahu kekurangan kamu kepada pasangan.
Mudah berteori, tapi pasti butuh tahap dan waktu,
juga strategi. Kalau di awal sudah membongkar semua kejelekan, bisa jadi
pasangan impian kamu langsung ‘jijik’ dan pergi meninggalkan kamu.
Namun demikian, bukan berarti kita harus menutupi kekurangan kita,
karena jika memang dia mencintai kamu, dia akan menerima kamu apa
adanya. Jika tidak, lepaskan. Jika memang jodoh, pasti akan kembali.
Sumber: http://goo.gl/Kldnik
3. Bisakah kamu “membuka diri” untuk pasangan kamu?
Seseorang mungkin dapat mengatakan seribu kata
cinta dan bersikap romantis kepada kamu, namun apa kamu dan pasangan
kamu sudah siap untuk membuka diri dan membiarkan pasangan kamu
mengetahui tentang ketakutan, pikiran, keinginan dan kekurangan
masing-masing?
Jika kalian merasa tidak nyaman untuk melakukan hal
tersebut, coba pertimbangkan lagi, apa benar kamu dan dia sudah siap
untuk menikah? Coba tanya pada diri masing-masing, apa kamu atau dia
yang belum siap untuk membuka diri atau malah kalian berdua sama-sama
belum siap?
Sumber: http://goo.gl/ZS2kC6
4. Intropeksi diri atau mencari kesalahan?
Coba telaah antara kamu dan pasangan kamu, apakah
kalian bisa sama-sama intropeksi diri atau saling menyalahkan? Atau
hanya satu pihak saja yang selalu intropeksi sementara yang lain
menyalahkan?
Jika kalian dapat saling mengalah dan intropeksi
diri setelah tahu kekurangan pasangan masing-masing, maka kalian sudah
selangkah lebih dekat ke jenjang pernikahan.
Sumber: http://goo.gl/0P8uoy
5. Mengenal perbedaan pria dan wanita.
Pria dan wanita pada kodratnya berbeda. Pria lebih
cenderung menggunakan logika dan wanita lebih menggunakan emosi. Meski
di zaman yang edan ini, banyak sekali pria yang kewanita-wanitaan dan
wanita yang kepria-priaan, namun percaya lah kodrat tersebut tidak dapat
diubah.
Wanita tidak mudah untuk memberi cintanya, namun begitu dia mencintai seorang pria secara mendalam, maka logikanya seakan mati dan dia akan memikirkan kamu walau pun kamu punya banyak kekurangan.
Sedang pria, mudah
untuk jatuh cinta, namun rasa cinta tersebut juga cepat hilang,
terutama jika logikanya sudah tidak dapat menerima kekurangan
pasangannya.
Sumber: http://goo.gl/jc5szc
6. Mengenal bedanya penasaran, sayang, suka, cinta dan obsesi.
Ini adalah hal yang seringkali sulit dibedakan oleh
seseorang yang sedang berada dalam panah asmara. Tidak jarang banyak
hubungan yang berakhir tragis karena mereka sendiri tidak paham akan
sejatinya perasaan mereka sendiri.
Kita bisa jadi penasaran pada seseorang, namun
belum tentu menyayangi dan menyukainya, apalagi mencintainya. Banyak
faktor yang bisa membuat kita penasaran, bisa karena kagum, tidak
dihiraukan, atau karena dia memenuhi kriteria “pasangan ideal” secara
fisik, sikap dan materi.
Kemudian, satu tingkat di atas penasaran adalah
sayang. Sayang juga ada banyak jenisnya. Sayang secara universal, sayang
kepada lawan jenis dan sayang kepada orangtua atau anak kita.
Di atas rasa sayang, ada suka. Suka pasti
bersayarat, karena kita pasti punya alasan untuk menyukai seseorang,
bisa karena fisik, kelebihan, atau harta yang dimiliki orang tersebut.
Di atasnya lagi, ada cinta. Cinta adalah sebuah
perasaan di mana kita yakin untuk terus bersama orang yang kita cintai
dan kita siap untuk menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Jika
kita cinta pada seseorang, kita pasti sayang dan suka pada orang
tersebut.
Semua
perasaan tersebut bisa menjadi sebuah obsesi manakala kita terlalu takut
dan cemas dalam sebuah hubungan, terlalu mengidolakan atau mengejar
orang tersebut.
Jadi, kamu dan pasangan kamu termasuk yang mana?
Sumber: http://goo.gl/GpVzrT
7. Belajar dari pengalaman pribadi dan orangtua atau orang yang sudah berpengalaman
Ada yang bilang, pengalaman adalah guru yang
terbaik, pengalaman lah yang akan mengajarkan kita banyak hal dan
mendewasakan kita.
Semakin banyak kita putus cinta, semakin sedikit
cinta yang akan kita beri selanjutnya, karena kita seringkali menjadi
takut dan apatis dalam menjalin sebuah hubungan.
Seringkali orangtua menasehati kita, namun saat
panah asmara sudah menguasai emosi kita, logika ikut terbutakan dan
tidak jarang kita merasa yakin bahwa kita tidak akan mengulang
kesalahan-kesalahan seperti yang sudah diwejangkan oleh orangtua atau
orang yang lebih berpengalaman.
Ketakutan
akan kekecewaan dan rasa apatis terhadap cinta, sebenarnya adalah
pandangan yang menyesatkan. Namun sayangnya, doktrin dari teman-teman
yang sering putus cinta, orangtua, atau lingkungan sekitar selalu
mengarah ke sana.
Jadi, banyak-banyaklah mendengar dan belajarlah dari pengalaman, bukan untuk menjadi takut dan apatis, namun untuk memperbaiki pandangan dan cara kita dalam memilih pasangan yang tepat.
Sumber: http://goo.gl/BcIbK4
8. Beri ruang bagi pasangan dan diri sendiri.
Seringkali, terutama bagi mereka yang obsesif,
membatasi ruang gerak pasangan dan diri sendiri. Beri ruang untuk
pasangan dan diri sendiri membantu kita untuk mengerjakan hal-hal yang
lebih baik dan bermanfaat.
Selain itu, kita harus meluangkan waktu untuk
banyak hal, pendidikan untuk yang masih sekolah, kerja untuk yang
berkarir, teman-teman dan yang terpenting, orangtua yang telah
membesarkan kita.
Meski rasa curiga, cemburu, atau rasa cemas adalah
hal yang wajar dan kita perlu mengingatkan pasangan kita, saat mereka
melakukan hal dibatas kewajaran, namun jika rasa cemas, cemburu dan
khawatir membuat kita menjadi tidak dapat mengerjakan hal bermanfaat
lainnya, maka hubungan tersebut hanya tinggal menunggu waktu.
Ruang gerak diperlukan untuk mengetahui dan
memperjelas mengenai perasaan kita dan pasangan kita. Jika ternyata
memang pasangan kita beralih dan memilih yang lain, berarti dia tidak
benar-benar mencintai kita. Atau bisa jadi di masa-masa penjajakan
tersebut, malah kita yang berpaling dan menemukan orang yang lebih baik.
Sumber: http://goo.gl/E7KYwu
9. Rumput tetangga selalu lebih hijau.
Bagi kalian, terutama yang selalu
membanding-bandingkan pasangan kalian dengan mantan atau lawan jenis
lainnya. Sadar lah, buka mata kalian, kalian bukan manusia sempurna,
kalian juga adalah manusia biasa yang memiliki banyak kesalahan dan
dosa.
Kebiasaan membanding-bandingkan adalah penyakit
kejiwaan yang membuat kita selalu merasa tidak puas dan melihat “rumput
tetangga” yang menurut kita lebih hijau, walau tidak jarang pada
akhirnya kita menyesal dan kehilangan orang yang sebenarnya lebih baik
dan tepat.
Memilih boleh saja, selama ada pilihan, namun
ingat, siap-siap untuk dicubit, jika kalian ingin mencubit. Karma itu
ada. Jadi, jangan menyakiti pasangan kalian jika tidak ingin disakiti.
Rumput tetangga boleh lebih hijau, tapi belum tentu lebih baik.
Sumber: http://goo.gl/HCQkb3
10. Bisakah kalian saling berpartisipasi dalam kehidupan pasangan kalian?
Banyak pasangan suami istri menikah dan kemudian
pernikahan mereka terasa hambar, karena tidak jarang mereka berjalan
masing-masing. Misalnya saja jika suami istri tersebut beda kegemaran
dan selera dan tidak menyukai kegemaran dan selera pasangannya. Mereka
tidak dapat saling mengisi dan berpartisipasi dalam kehidupan
pasangannya.
Kebanyakan pasangan suami istri, melakukan peran
mereka secara umum saja, namun kurang memperhatikan pasangannya, ini lah
yang kemudian dapat menjadi pemicu rasa tidak nyaman dan memudarkan
perasaan cinta, bahkan komitmen pernikahan.
Sebuah contoh sederhana dari sebuah cerita yang
pernah saya baca. Sepasang suami istri, melakukan tugasnya dengan baik.
Sang istri adalah seorang ibu rumah tangga yang baik dan mengerjakan
semua pekerjaan rumah sampai larut malam, sedang suami adalah seorang
yang workaholic dan selalu pulang larut malam. Mereka hanya melakukan
tugas dan kewajiban mereka, namun mereka tidak menyediakan waktu dan
masuk ke dalam kehidupan pasangannya.
Pekerjaan dan
kewajiban peran suami juga istri dalam rumah tangga memang penting,
namun yang terpenting adalah bagaimana dapat saling mengisi dan
menikmati saat-saat bersama pasangan kita. Walau terlihat sepele, namun
bisa jadi sangat bermakna.
Mungkin bagi kebanyakan wanita, menonton pria
bermain game adalah sesuatu yang membosankan, sama membosankannya dengan
seorang pria menemani wanita berbelanja, tidak dapat dipungkiri.
Lantas bagaimana mengatasinya? Ajak mereka untuk
terlibat langsung dalam aktivitas dan hobi kita. Misalnya saja, saat
sedang berbelanja, libatkan pasangan kita dalam memilih, asal jangan
malah berkelahi karena perbedaan pendapat.
Lantas bagaimana jika ternyata kalian memiliki
selera yang berbeda dan sering berkelahi karena perbedaan tersebut?
Mungkin kalian bisa membicarakan topik lain yang tidak bersangkutan
dengan hobi kalian atau belajar lebih menghargai pendapat pasangan
kalian dan mengalah.
Sumber: http://goo.gl/pGZZmE
11. Belajar merelakan dan menerima.
Jika suatu saat, ketika kamu ditinggalkan oleh
orang yang benar-benar kamu cintai, maka relakan lah dan jalani hidup
seperti sebelum kamu bersamanya. Lagi-lagi sebuah teori yang mudah
diucapkan namun sulit dilaksanakan.
Mudah untuk jatuh cinta, tidak butuh waktu yang lama, namun untuk melupakannya, mungkin butuh waktu sampai kita menutup mata.
Percaya lah, merelakan seseorang akan lebih baik
daripada memaksanya untuk terus bersama kita, karena kita juga tidak
akan bahagia, untuk apa kamu mendapatkan sebuah raga kosong tanpa jiwa?
Bisa dipastikan, hubungan yang dipaksakan, tidak akan berakhir bahagia.
Dalam hidup, akan ada yang datang dan pergi, dalam
segala hal. Yang perlu kita lakukan adalah beradaptasi dan membuka hati
dan pikiran, jangan terus fokus kepada masalalu. Show must go on.
Untuk sukses, kita harus berjuang mati-matian, jatuh bangun untuk mencapainya.
Sama halnya dengan mencari pasangan hidup yang tepat. Pada akhirnya
kita mungkin akan melewati beberapa orang yang tidak cocok dan memang
bukan jodoh kita, agar kita belajar dari kesalahan dan pengalaman untuk
memilah dan mendapatkan pasangan hidup yang tepat.
Sumber: http://goo.gl/ql9M9U
12. Jangan terburu-buru untuk menikah
Jika kalian merasa semua kriteria di atas telah terpenuhi, maka sudah saatnya membicarakan hal yang lebih serius yaitu menikah.
Menikah butuh kesiapan fisik dan mental, juga materi. Semua
tidak dapat terpisahkan, ada banyak pasangan yang bercerai karena
masalah finansial sampai masalah mengurus anak. Ada baiknya, sebelum
melaksanakan pernikahan, kamu dan pasangan kamu sudah berkomitmen dan
mempersiapkan langkah kalian setelah menikah dan menyiapkan segala
kebutuhannya.
Misalnya saja perencanaan ingin punya anak berapa,
bagaimana tabungan atau investasi yang ingin diambil untuk biaya
pendidikan anak nantinya dan sebagainya.
Pernikahan harus lah berdasarkan logika dan
komitmen, jangan semata-mata hanya berdasarkan emosi atau “suka sama
suka”, karena rasa suka bisa hilang, rasa cinta bisa pudar, namun jika logika, komitmen dan perasaan telah menjadi dasar sebuah pernikahan, maka hubungan tersebut bisa bertahan lama.
Memilih pasangan yang tepat bukan perkara mudah. Hidup tanpa kekasih memang menyedihkan, tapi akan lebih menyedihkan jika menghabiskan sisa hidup bersama orang yang tidak tepat.
Memilih lah
selagi bisa memilih, sebelum terlambat dan menyesal. Ingat, hidup adalah
pilihan, masa depan adalah konsekuensi dari perbuatan kamu di masa
sekarang dan masa lalu. Hanya kamu lah satu-satunya orang yang bisa
menentukan kebahagiaan dan jalan hidupmu.
Note: Tulisan di atas murni karya saya pribadi. Untuk saran atau kritik dan tanya jawab, silakan isi di kolom komentar. Silakan copy paste, namun tetap santun dengan cara memasukkan nama dan email penulis.
Semoga tulisan saya dapat membantu pembaca
terutama untuk kalian yang belum menikah agar lebih cermat dalam memilih
pasangan hidup.
sumber: http://edukasi.kompasiana.com/2014/07/13/tips-memilih-pasangan-yang-tepat-sebelum-menikah-673677.html
Komentar
Posting Komentar