Salah Persepsi Tentang Tuberkulosis (TB) Dan Penularannya
Trus, TB itu apaan sih?
Dulu biasanya di singkat TBC, sekarang hanya TB, penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis, dan Indonesia adalah pemasok pasien TB yang masuk dalam 5 besar di dunia setelah India, China, dan Afrika Selatan. Kuman TB tersebar di mana-mana, mungkin ada di sekitar tempat anda berada sekarang. Jadi semua orang beresiko terkena kuman ini. Nah masalahnya, situ sudah tahu belum apa sebenarnya TB, jenis-jenisnya, cara penularan dan cara pengobatannya? Infonya sebenarnya sudah banyak di internet, tapi balik lagi ke pernyataan saya di awal, biasanya kita baru ‘ngeuh’ kalau sudah mulai terjangkit.
Untuk rekomendasi bacaan, silakan situ bisa baca-baca di sini atau di sana.
Nah, di bagian pertama ini, saya ingin meluruskan persepsi sebagian besar orang tentang penyakit tuberculosis. Jujur saja, pada awalnya, setiap mendengar kata TB atau TBC yang terbayang di benak saya adalah seseorang yang kurus, pucat, ringkih, dan batuk tak berhenti bahkan sampai berdarah-darah. Dulu di kampung saya ada orang seperti itu, dan menurut rumor orang tersebut mengidap TB sehingga semua orang menjauhinya karena takut tertular.
Batuk = TB atau TB = Batuk
Seperti yang sudah saya tulis di atas, TB identik dengan batuk-batuk dan segala sesuatu yang berhubungan dengan paru-paru. Makanya ketika seseorang sudah di diagnosa dengan hasil positif TB tapi tidak batuk sama sekali, biasanya orang-orang heran dan bertanya-tanya “kok tidak batuk?”. 90% dari kawan saya bertanya seperti itu.
Ternyata, TB bukanlah melulu soal penyakit menyangkut paru-paru dan batuk, tapi itu hanyalah salah satu dari jenis penyakit TB saja, dimana kumannya nangkring di tempat tersebut. Maka namanya : TB Paru. TB Paru adalah jenis TB dengan penderita paling banyak/mayoritas di Indonesia, begitu munurut dokter, sedangkan yang lainnya masih jarang. Karena itulah, orang-orang akhirnya mengenal TB hanya sebagai penyakit paru-paru saja.
Ada beberapa jenis TB –mereka dinamakan sesuai bagian tubuh di mana mereka hinggap, yaitu TB kelenjar TB kulit, TB otak, TB tulang, dan lainnya.
TBC = Kurus
Nah, ini juga anggapan yang menyesatkan. Orang yang menderita penyakit TB memang berpotensi mengalami penurunan berat badan drastis, dan dalam jangka waktu tahunan akan kurus terus menerus, tapi tidak berarti bahwa orang gemuk bisa aman-aman saja dari kuman TB. Karena kurus itu hanyalah efek berkelanjutan dari penderita yang terus mengalami penurunan berat badan (jika tidak diobati segera).
Penderita TB Harus Dikarantina/Dijauhi
Orang yang belum terjangkit (misalnya keluarga atau kawan dekat) harus tahu kondisi si penderita dengan sebaik-baiknya untuk menentukan perlakuan yang benar dan mendukung si penderita dalam proses penyembuhan. Sedangkan untuk penderita TB non paru, tidak ada salahnya untuk tetap berhati-hati walaupun tidak berpotensi menularkan, dan melakukan pencegahan yang sama.
Bagaimana Cara Penularan TB Paru?
Sebagai salah satu penyakit menular, idealnya penderita TB harus memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada tubuhnya dan bahwasanya TB adalah penyakit menular yang rentan menjangkiti orang-orang di sekelilingnya. Dikarenakan masih banyak penderita TB yang sangat cuek dan tidak peduli bahwa sekali dia meludah atau batuk, kuman-kuman berkeliaran di sekelilingnya. Ini bukan untuk menakut-takuti atau menjadikan kita paranoid, tapi menurut saya, selain memikirkan bagaimana caranya agar bisa sembuh total, hal pertama yang harus juga dipikirkan oleh penderita TB adalah : bagaimana sebenarnya cara penularan penyakit tersebut dan bagaimana caranya supaya orang lain tidak tertular oleh penyakit yang sedang kita derita.
Mengetahui cara penularan, ini sangat penting, agar penderita menjauhi atau meminimalisir hal-hal yang bisa membuat orang lain ketularan, terutama orang-orang terdekat yang hidup bersama satu atap dengannya, seperti anggota keluarga misalnya.
Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan yang berpotensi menularkan kuman TB Paru pada orang lain :
- Batuk/bersin tidak ditutup dengan cara yang benar. Sebenarnya ini sudah ada dalam aturan/tatakrama batuk/bersin di tempat publik yang baik dan benar. Namun kadang ada orang-orang yang tidak mempedulikannya. Saat batuk atau bersin, tutuplah dengan sapu tangan, tisu, atau kalau tidak ada maka benamkan muka ke arah lengah kita sendiri. Ingat, jangan ditutup dengan tangan! Bagi penderita TB paru, dia wajib mengenakan masker saat berada di tempat umum untuk menghindari tersebarnya kuman.
- Meludah sembarangan. Sama halnya dengan batuk/bersin di tempat umum, meludah pun jangan asal crot apalagi jika kita tahu bahwa di dalamnya terdapat kuman yang menular. Meludahlah di kamar mandi (jangan lupa di siram sesudahnya) atau di sungai/kali yang airnya mengalir.
- Menggunakan barang-barang pribadi secara bersama-sama, terutama yang memungkinkan kontak langsung dengan cairan dari sumber penderita. Misal, menggunakan sendok bareng-bareng saat makan, minum dari gelas yang sama berbarengan, dsb. Tapi barang-barang tersebut bisa tetap digunakan oleh orang lain setelah dibersihkan kembali.
Kuman tersebut hinggap di tubuh kita, di tempat manapun, dan tertidur. Nah, kuman-kuman ini akan hancur dengan sendirinya secara alamiah (seperti yang saya sebutkan tadi) dengan kekebalan dari tubuh kita sendiri. Yang apes adalah ketika kuman nongkrong di tubuh kita pada saat antibodi sedang drop atau jelek sehingga kuman tersebut bangun dari tidurnya dan menyerang tubuh kita yang lemah. Maka terjadilah infeksi sebagai cikal bakal penyakit TB itu tadi. Dan TB ini tidak timbul dalam hitungan hari atau bulan semenjak kumannya menempel di tubuh kita. TB bisa menjangkiti kita dalam kurun waktu tahunan sejak kita terkena kuman tersebut.
Jadi sebenarnya, untuk menghindari terkena TB cukup sederhana saja, seperti juga penyakit-penyakit lainnya: tetap jaga imunitas tubuh dengan pola hidup yang sehat, dan jaga kebersihan. Apabila ada orang terdekat atau pernah dekat yang (kita tahu) pernah terkena TB, maka sebaiknya periksakan kesehatan diri kita sendiri pula.
http://yangketiga.wordpress.com/2013/01/05/salah-persepsi-tentang-tuberkulosis-tb-dan-penularannya/
Komentar
Posting Komentar